Laman

Selasa, 01 Mei 2012

Our Destiny part1


Oktober 1997

Ketika semua orang sedang istirahat. Aku, Ayah dan Bunda tiba-tiba terbangun dari tidur, karena kakak berteriak-teriak meminta tolong kepada kami. Aku yang baru berusia 7 tahun tidak tahu apa yang terjadi terhadap kakak. Dan hari itu, adalah hari terakhir dimana aku melihat kakak berjalan untuk terakhir kalinya.

Sorenya ...
            “Bunda, ka David kemana?” Tanyaku.
            “oh ka David tadi keluar main basket sama teman-temannya, kalo mau nyusul kakak kerjakan PR kamu dulu ya” Jawab mama.
            “Iya Bunda, aku udah selesai ngerjain PR nya, aku mau main sama kakak dulu ya” Jawabku sambil memakai sandal dan berlari keluar rumah.
            “Hati-hati dijalan Disty” Teriak Bunda.

***



            Aku Disty Kirania, seorang anak yang sangat beruntung didunia ini. Aku mempunyai kakak bernama David Aldyansyah, Kak David 6 tahun lebih tua dariku. Dia baru saja memasuki sekolah barunya, SMP 6 Depok. Maupun jarak umur yang jauh dengan kakak, aku dan kakak jarang sekali bertengkar. Karena Bunda selalu mengajari kita agar menjadi saudara yang akur dan saling menyayangi.
            Bunda dan Ayah adalah orang yang paling berpengaruh dalam hidup kami. Ayah selalu mencari nafkah dan menyempatkan berlibur bersama kami. Sedangkan Bunda, selalu ada untuk aku, kakak dan Ayah.

***

            Ditengah jalan aku mendengar suara anak-anak yang sedang bermain di taman belakang komplek rumah kami. Biasanya disana kakak dan teman-temannya selalu bermain basket. Sore ini aku ingin berlatih basket dengan kakak. Karena kakak sudah berjanji denganku, bila dia masuk SMP yang dia inginkan, maka dia akan mengajariku basket. Aku menyukai basket karena kakak. Dia selalu memainkan bola orange itu didalam rumah. Sampai-sampai Bunda memarahinya karena merusak pajangan Bunda.
            Sesampainya dialapangan, aku tidak langsung menghampiri kakak. Karena kakak sedang asik bermain dengan temannya. Kakak yang saat menggiring bola kea rah ring lawan terlihat sangat fokus dan serius. Kakak dihadang oleh beberapa temannya yang menjadi lawannya. Akhirnya kakak sampai didekat ring lawan dan kakak melakukan gerakan slam dunk dan mencetak angka.
            “Horeeeeeeeee, kakak hebat!!!!!” Teriakku sambil menghampiri kakak.
            Ternyata kakak kaget dengan kedatanganku.
            “Sejak kapan kamu disana Dis?” Tanya kakak.
            “Disty baru aja dating ka. Kan hari ini jadwal kakak untuk ngajarin Disty. Kakak lupa ya?” Jawabku.
            “Kakak mana lupa sih Dis, kan kakak udah janji sama kamu”
            “Yaudah sekarang kita latihan ya ka”
            Kakak langsung mengajariku beberapa trick baru dan cara mendribble bola dengan benar. Karena selama ini aku belum terlalu lancar. Saat sedang memberikan contoh untuk mendribble bola, kakak tersandung dan jatuh.
            “Kak David ngga kenapa-kenapa?” tanyaku, karena kakak terlihat kesakitan.
            “ngggggg .... kakak ngga kenapa-kenapa ko Dis” jawab kakak sambil memegangi kakinya “Kita pulang ya Dis, kayanya kaki kakak perlu di kompres, agak keseleo kayanya.”
            “kakak beneran ngga kenapa-kenapa? Yaudh kita pulang aja ka, sini Disty bantu jalan” jaawabku sambil memegangi tangan kakak.

            Sesampanya dirumah, ternyata Bunda sedang ke luar. Hanya ada Bi Marsih dirumah. Aku meminta Bi Marsih untuk melihat keadaan kaki kakak. Sedangkan aku berlari menuju kulkas untuk mengambil kompres untuk kaki kakak.
            “Bi, gimana kaki kakak?”
            “kaki kakak ngga kenapa-kenapa ko Disty, palingan keseleo biasa aja” jawab kakak sambil memegangi kompres yang tadi aku siapkan.
            “Iya neng disty, kayanya kaki den david cuma keseleo aja, nanti bibi panggilin Bi Iyem yang suka ngurut Ibu.” Jawab Bi Marsih
            “kakak bener ngga kenapa-kenapa?” tanyaku lagi
            “Iya Disty cantiiiiiik, jangan khawatir yah, besok palingan udah baikan ko” jawab kakak sambil megusap kepalaku.

            Setelah dikompres di ruang tamu, kakak langsung dibawa ke kamarnya oleh Bi Marsih dan aku hanya bisa mengikuti dari belakang. Aku menemani kakak yang sedang tertidur. Aku merasa bersalah kepada kakak. Karena aku udah membuat kakak sakit. Dan akupun tertidur disamping kakak.

***

            “Aaaaaaaaaaahhhhhhhhh!!!!!!!”
            Suara teriakan disampingku membuatku terbangun. Ternyata itu suara kakak yang kesakitan.
            “Bundaa, Ayaaah!!!!” teriak kakak sambil memegangi kakinya
            “Kakak kenapa? Ka David!!” tanyaku

            Tiba-tiba pintu kamar ka David terbuka. Ada Ayah dan Bunda yang segera masuk.
            “David, kamu kenapa?” Tanya Ayah.
            “Kaki David yaah, kaki david!!!”
            “kenapa kaki kamu?” Tanya Bunda sambil memegangi kaki kakak.
            “kaki David ngga bisa digerakin, kaki David sakit!!” jawab kakak sambil berteriak. Teriakan itu membuatku takut dan Bunda langsung memelukku dan mengajakku keluar kamar. Bunda berlari mengambil handphone nya untuk menelepon Ambulance.

            Tidak lama kemudian Ambulance dating dan aku hanya duduk di sofa. Bunda menghampiriku.
“Disty, dirmah saja ya sama Bi Marsih. Bunda dan Ayah mau menghantar kakak dulu sebentar, nanti setelah ka David sudah baikan, Bunda akan emput Disty. Disty mengerti kan?”
“Iya Disty ngerti Bunda. Tapi Bunda jangan lama-lama ya” jawabku
“Iya Bunda janji” jawab Bunda sambil mencium keningku “BI, unuk mala mini bibi temenin Disty tidur ya, nanti semua pintu dikunci da nada pak ujang yang ngejagain rumah”
“Iya bu” jawab Bi Marsih
Saat itu juga aku menangis. Entah kenapa aku sedih melihat kakak yang terus berteriak-teriak. Teriakan kakak terdengar sangat keras. Aku menangis dipelukan bibi, melihat ambulance yang membawa kakak pergi, tangisanku semakin keras dan bibi membawaku masuk. Saat itu aku tidak tahu bagaimana kabar kakak dan akhirnya aku tertidur.




Ini tulisan pertama gue yang baru gue post secara online. so nantikan kelanjutannya yah :D semoga tulisan ini makin hari makin kece *B)*. thank youuuuuu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar